Tak Perlu Kau Tangisi Lagi Kesedihan Yang Sama

Yulio adi candra | 14.45 | 0 komentar

Sri adalah kembang desa. Namun hatinya baru patah karena tak jadi menikah. Kisah cintanya bersama kekasih tak direstui oleh orang tua sang pria. Sejak saat itu, sang pria dan seluruh keluarganya pindah dari desa tersebut.

Sejak saat itu, Sri selalu menangis. Ia teramat cinta pada kekasihnya itu, namun apa daya, sang pria juga tidak bisa meninggalkan keluarga besarnya. Sri selalu mencoba mengirim surat dan menghubunginya, namun tak ada sedikit pun balasan.

Setiap malam, orang tua dan nenek Sri mendengar gadis cantik itu terisak. Wajahnya juga muram dan jarang tersenyum. Kalau diajak makan, ia mengatakan bahwa dirinya tak selera. Sang ayah pun sampai geleng-geleng melihat tingkah putrinya, namun ingin memarahinya juga ia tak sampai hati.

Suatu ketika sang nenek mengajak Sri memberi pupuk di halaman depan rumahnya. Sang nenek bertanya sambil menanam bibit bunga kesayangannya.
"Sri, ayam sama telur duluan mana ya, Nduk?"
Sri melirik pada neneknya, kemudian melanjutkan menyemai pupuk, "Ya duluan telur to, Mbah. Kalo nggak ada telur ya nggak ada ayam," jawab Sri.
Si nenek menggeleng, "Ya duluan ayam to, Nduk," jawab nenek sambil mencibir.
Sri terhenyak, lalu bertanya pada neneknya. "Kok bisa sih, Mbah?"
Si nenek meringis, "Soalnya tadi nenek bilang ayam duluan kan? Hehehehe.."
Sri manyun, namun kemudian dia tersenyum dan tertawa karena melihat dirinya dikerjai oleh sang nenek. Ia tertawa melihat wajah lucu neneknya. Mungkin ini pertama kalinya dia tertawa sejak ia patah hati.

Keesokan harinya si nenek mengulangi lagi pertanyaan itu, begitupula lusa dan beberapa hari setelahnya. Awalnya Sri masih tertawa, kemudian dia hanya meringis, sampai akhirnya dia tersenyum dan hari ini dia kesal ditanyai hal yang sama. "Nenek ini ngapain sih tanya hal yang sama terus?" tanya Sri kesal.
Mendengar hardikan ini, nenek Sri terdiam, lalu tertunduk dan masuk kamar. Melihat apa yang dilakukan oleh anaknya, sang ibu memanggil Sri agar datang ke kamarnya dan menasehatinya.

"Kamu kan sudah besar, apa ya sopan membentak nenek begitu?" tanya ibunya.
"Habisnya nenek tanya hal yang sama terus, Sri bosan," jawab Sri sambil cemberut.
Sang ibu menghela nafas, kemudian ia mengangkat wajah anaknya, "Lihat ibu. Nenekmu dan juga ayah serta ibu melihat kamu cemberut terus. Nenekmu mengajak bercanda agar kamu tertawa lagi."

"Ya tapi nggak dengan bahan tertawaan yang sama lah, Bu. Nggak jelas deh," sahut Sri.
Sang ibu kembali menghela nafas dan berkata, "Kamu tertawa berkali-kali untuk hal yang sama nggak bisa. Tapi kamu bisa menangis berhari-hari, berminggu-minggu untuk masalah yang sama? Iya?"
Mendengar perkataan ibunya, Sri terkejut. Ia seolah disadarkan dari tempat tidurnya selama ini. Perkataan itu seolah membangunkannya dari nina bobo karena galau ditinggal kekasihnya. Selama ini ia sedih-sedih sendiri dan tidak memperhatikan orang-orang yang mengkhawatirkannya.

Padahal menangisi hal yang sama juga tak membuatnya kembali pada kisah cintanya yang telah lalu. Sri tertunduk dan menyesal pada ibunya, kemudian ia meminta maaf pada neneknya yang telah ia bentak.

Ladies, kegalauan itu bukan untuk terus menerus dinikmati. Kegalauan adalah fase yang memang harus dilalui agar sambil menjalaninya, Anda belajar sesuatu agar lebih kuat lagi. Tuhan menciptakan kedua kaki untuk berjalan ke depan, jadi teruslah melangkah.

Category:

About Lovesmotivation.blogspot.com:
Lovesmotivation.blogspot.com adalah blog yang berisi mengenai kata motivasi cerita motivasi dan masih banyak yang menarik disitus ini...

0 komentar